MENGAPA “DITUSUK DENGAN JARUM” ( AKUPUNKTUR) BISA MEMBERI EFEK PENYEMBUHAN? ?>

MENGAPA “DITUSUK DENGAN JARUM” ( AKUPUNKTUR) BISA MEMBERI EFEK PENYEMBUHAN?

Suatu kali ada teman yang mengeluh pegel-pegel dan nyeri di pundak….keluhan ini sudah sekitar 6 hari…padahal sudah minum obat tapi belum juga sembuh…sembuh sebentar kambuh lagi….akhirnya saya tawari untuk di akupunktur, kebetulan dia mau….alhasil setelah selesai di lakukan akupunktur dia bilang….Mas udah enak sekarang….esok paginya dia telpon katanya sudah sembuh…kemudian dia bertanya…. Mas obat apa yang diberikan kepada saya? Apakah jarum-jarum tersebut mengandung obat? Mengapa “ditusuk dengan jarum” bisa memberi efek penyembuhan?. Pertanyaan tersebut bukanlah yang pertama kali saya dengar….

Apa hiya ya….pada jarum akupunktur di beri obat? Mengapa bisa menyembuhkan? Apa to akupunktur itu?

Akupunktur berasal dari kata accus ( jarum ) dan puncture (tusuk),merupakan teknik penyembuhan kuno yang berasal dari China dan sudah ada sejak lebih dari 3000 tahun yang lalu. Menurut buku HUANG TI NEICHING (The Yellow Emperror’s Classic Of Internal Medicine) Ilmu Akupunktur sudah ada sejak jaman batu, bahkan jarum akupunktur pun awalnya ada yang dibuat dari batu !! kemudian seiring perkembangan zaman, jarum akupunktur pun mengalami perubahan, jarum batu diubah menjadi jarum bambu kemudian jarum perunggu dan seterusnya.

Terapi dengan Akupunktur menurut sejarah terbukti Efektif dan mudah dilakukan…dalam buku NAN CING disebutkan bahwa PEN CIE berhasil menyembuhkan seorang pangeran bernama HAO dgn jarum perunggu dari KETIDAKSADARANNYA selama SETENGAH HARI.

Akupunktur terus berkembang dan juga mengalami pasang surut, hingga saat ini Akupunktur telah diakui sebagai tenaga kesehatan di Republik Indonesia.

Kembali kepada pertanyaan teman yang di-akupunktur tadi, mengapa akupunktur bisa menyembuhkan?

Hal ini bisa dijelaskan dengan ilmiah, mengapa akupunktur bisa memberikan efek terapi. Beberapa penelitian telah membuktikan keberadaan titik akupunktur yang meliputi : a. Struktur anatomi dan histology, b. Fenomena khas dan c. Efek rangsang. Dari penelitian Gunn et al (1976) terhadap 70 buah titik akupunktur disimpulkan bahwa titik akupunktur terletak di area kaya saraf superficial yang apabila dirangsang akan terjadi beberapa reaksi seperti :  a. Adanya reaksi lokal (regional). b. reaksi segmental.c. Reaksi central (sistemik / umum), yang timbul serentak atau selektif, tergantung rangsangan, titik akupunktur dan kondisi tubuh.

  1. Reaksi lokal (regional) :

Reaksi jaringan

Cedera dinding sel akibat rangsangan titik akupunktur membebaskan asam arakidonat  yang dikandungnya. Selanjutnya dihasilkan lekotrin, postaglandin E-2, tromboksan dan  prostasiklin.Mediator kimiawi itu memicu terjadinya inflamasi lokal dan agregasi trombosit. Selain itu, kerusakan endotelium pembuluh darah halus dan kapiler serta jaringan ikat akan menghasilkan fragmen kolagen, miofibril dan membran basal, yang mengakitivasi sistem pembekuan darah secara bertingkat.Reaksi inflamasi buatan akan dilanjutkan oleh proses reaksi anti-radang

Arus listrik dari perlukaan

Titik akupunktur mempunyai tegangan listrik lebih tinggi dari kulit sekitarnya.   Tegangan listrik yang melewati lapisan epidermis sebesar 20 – 90 milivolt, dengan kutub positif di dalam dan kutub negatif di luar. Perlukaan kulit akan menimbulkan arus pendek. Menurut Pomeranz : penusukan dengan jarum pada titik-titik akupunktur akan menurunkan tahanan listrik   berbarengan  dengan menghasilkan arus listrik searah sebesar 10 mikroamper dimana kutub negatif berada di bekas lubang tusukan dan  kutub positif terletak di tepi luka.

Fenomena ini berlangsung selama lebih kurang 48 jam, waktu yang dibutuhkan tubuh menyembuhkan luka tusukan.

Degenerasi aksonal atau demielinisasi segmental menyebabkan saraf yang rusak menjadi peka berlebihan terhdp asetilkolin. Arus listrik searah yg dihasilkan penjaruman mengurangi kepekaan tersebut, dan memicu proses regenerasi saraf.

  1. Reaksi Segmental.

Setiap saraf spinal mensarafi suatu segmen tubuh. Segmen terdiri dari dermatom, miotom, sklerotom dan viserotom, yang berhubungan satu dengan yang lain oleh serabut saraf spinal yang sama; melalui persarafan itu bagian-bagian segmen dapat saling  mempengaruhi satu bagian dengan bagian yang lain.

Sesuai dengan migrasi dalam perkembangan embrionik,  bagian-bagian segmen itu tidak lagi selalu tumpang  tindih, walaupun masih tetap berhubungan secara neuroanatomi,tetapi struktur anatomik sudah berjauhan satu dengan yang lain.

Reaksi segmental yang mungkin timbul setelah penusukan jarum antara lain :

Pain dan hyperalgesia  lewat kornu dorsalis sensorik dan jaras-jaras asendingnya seperti :  a. nyeri local,  b. nyeri rujukan,  c. hiperaklgesia local dan d. hiperalgesia rujukan.

Hypertonic muscles  lewat kornu anterior motorik akan menyebabkan :  hypertonic Muscles dan aktivasi titik pemicu.

Autonomic symptoms melalui kornu lateralis autonomic yaitu : a. efek vasomotor, b. efek sudomotor, c. efek polimotor,  d. efek visceral, e. sensitasi serabuf aferen kecil (hiperalgesia rujukan)

  1. Reaksi central (sistemik / umum).

     Efek analgetik

     Efek analgetik tindakan akupunktur dimediasi oleh endorfin dan/atau oleh serotonin. Penusukan dengan jarum pada lokasi bukan titik akupunktur tidak menimbulkan efek analgesi,  tetapi dapat menimbulkan Stress induced analgesia, bilamana rangsangan kuat dan lama.

Stress induced analgetik tidak dapat ditiadakan oleh nalokson atau sinanserin, tetapi dapat ditiadakan oleh deksametason.

Perbedaan yang lainnya adalah peningkatan bermakna kadar kortisol, norepinefrin dan siklik adenosin monofosfat pada stress analgesia.

Efek regulasi

Efek regulasi akupunktur dihasilkan lewat  mekanisme kerja yang melibatkan sistem saraf  (perifer dan SSP),sistem endokrin, sistem imuniologik, sistem vaskuler,sistem metabolisme tubuh dengan peran utama pada sistem saraf pusat,  seperti tampak pada Skema Gambar diatas ( diambil dari Cho ZH et al : Neuro-Acupuncture, 2001.)

Nah, dengan demikian jelas mengapa ditusuk dengan jarum (akupunktur) bisa memberikan efek penyembuhan, serta akupunktur merupakan tindakan penyembuhan yang Aman, Rasional, Efektif serta mudah dilakukan. Setelah mengalami sejarah panjang dan penjelasan ilmiah akhirnya akupunktur sebagai bagian dari pengobatan timur bisa diterima oleh kalangan kedokteran barat termasuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahkan sejak tahun 2008 Kementerian Kesehatan telah memiliki pendidikan Akupunktur secara formal dengan akreditasi B yaitu JURUSAN AKUPUNKTUR di Poltekkes Surakarta. Semoga bermanfaat. (*Hanung Prasetya).

 

 

 

 

 

 

4,461 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini