ATASI TRAUMA PSIKIS DENGAN EYE MOVEMENT DISENSITIZATION REPROCESSING (EMDR) ?>

ATASI TRAUMA PSIKIS DENGAN EYE MOVEMENT DISENSITIZATION REPROCESSING (EMDR)

Oleh:

Tulus Dwi Hartanto, Eko Setyawan, Danur Kusuma A. P., Affida Hasna, Fitri Nursanti, Aldist Andini Listy*

Latar Belakang

Trauma psikis adalah suatu keadaan trauma psikologis yang sangat menyakitkan yang menimpa pada sesorang. Trauma psikis menyebabkan pengalaman hidup menjadi lebih seram. Sesorang yang mengalami trauma psikologis biasanya akan mengalami susah tidur dan mengalami mudah terbangun. Ketika seorang trauma psikis mengalami mimpi maka mimpi itu dianggap mimpi paling mengerikan. Dalam mimpi tersebut, seseorang merasa mengalami peristiwa yang amat buruk. Selain itu seseorang yang mengalami trauma psikis akan jadi mudah tersingung dalam hal kecil dan akan mudah marah pada sesuatu yang sederhana.

Pengalaman yang buruk akan selalu diingat oleh sesorang yang mengalami trauma psikis. Mereka selalu di kejar-kejar pengalaman yang sangat buruk, yang membuat seseorang menjadi gangguan psikotik. Emosi seorang trauma psikologi tidak dapat terkontrol, mereka selalu mengalami tranportasi emosi yang sangat cepat bahkan mereka tidak bisa merasakan emosi apapun. Masa depan mereka juga merasa suram, bahkan tidak ada masa depan lagi untuk dia, hidup seorang trauma psikis menjadi sangat berbahaya ketika ia merasa hidupnya tidak berguna. Semangat yang hilang dari seorang psikis menjadi penghambat dari penyembuhan trauma psikis (Pranoto, 2015).

Eye Movement Disensitization Reprocessing (EMDR) merupakan pendekatan psikoterapi terpadu, bertahap, tervalidasi secara keilmuan berdasarkan teori untuk mengatasi psikopatologi yang dikarenakan oleh pengalaman traumatis dan peristiwa kehidupan yang mengganggu. Hal ini merupakan hasil dari kelemahan kemampuan bawan manusia untuk memproses dan menggabungkan pengalaman atau pengalaman dalam sistem saraf pusatnya (EMDRIA, 2009 dalam Ananda Rizka R, 2012).

EMDR adalah salah satu terapi yang banyak digunakan dalam menangani kasus PTSD. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan simptom PTSD pada korban bencana gempa dengan menggunakan EMDR. Responden dilakukan pada 2 orang korban bencana gempa. Perancangan terapi EMDR dilakukan 4 kali sesi. Sebelum dan sesudah terapi pada subyek dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur PSS (PTSD Symptom Scale) dan CAPS (Clinician Administered PTSD Scale) (Susanty, 2014).

Pengertian Trauma Psikis

Trauma Psikis adalah respon emosional seseorang terhadap peristiwa mengerikan yang pernah dialaminya. Antara lain kecelakaan, menghadapi peperangan, pelecehan seksual hingga pemerkosaan dan dilanda bencana alam. Setelah mengalami kejadian tersebut para korbannya akan mengalami goncangan jiwa dan sikap menolak agar terhindar dari peristiwa buruk yang pernah dialaminya. Masing-masing individu berbeda dalam menyikapi traumatis yang pernah dialaminya. Ada yang bersifat sementara ada pula yang bersifat jangka panjang hingga menghantui hidupnya (Pranoto, 2015).

Tanda dan Gejala

Adapun bentuk-bentuk gejala seseorang mengalami trauma psikis :

  • Mengalami kejadian yang buruk dan mengerikan.
  • Sulit tidur dan mudah terbangun.
  • Mimpi buruk terhadap hal kejadian yang mengerikan.
  • Seperti mengalami kembali peristiwa buruk dan mengerikan.
  • Menghindari tempat, orang, situasi, dan hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa buruk dan mengerikan.
  • Mudah terkejut.
  • Mudah tersinggung dan marah.
  • Sering teringat pengalaman atau kejadian buruk.
  • Tidak merasakan emosi apapun.
  • Merasa tidak bersemangat dan tidak mempunyai masa depan.(Nasution, 2015).

Penatalaksanaan

Yoga

       Adalah usaha mengharmonisasikan elemen spiritual dan fisikal seorang manusia untuk mencapai kondisi ideal, dan fase penyatuan ini akan memudahkan terjadinya komunikasi dengan Sang Maha Pencipta.

Dalam yoga, tubuh manusia erat dengan pola gerak, napas, serta pikiran, yang memungkinkan terjadinya keseimbangan, relaksasi, serta harmoni dalam hidup. Praktisi yoga menggunakan wujud kasar tubuh untuk menjernihkan pikiran (Lembang, 2016)

Meditasi atau Relaksasi

      Adalah proses yang dilakukan secara sadar untuk memusatkan perhatian pada satu titik. Dalam keadaan meditasi, kita mencapai taraf keseimbangan sema sistem yang ada dalam diri kita akan aktif bekerja secara maksimal dengan mengeluarkan energi tubuh seminimal mungkin.

Meditasi dan relaksasi membawa seseorang untuk selalu dalam keadaan seimbang. Keadaan seimbang ini menyebabkan semua sistem yang ada pada seseorang, seperti daya tahan tubuh, sistem saraf otonom dan sistem hormonal dapat berfungsi maksimal.

Meditasi dan relaksasi dapat melepaskan topeng-topeng trauma masa lampau yang menutupi kecantikan pribadi sesorang. Dengan lepasnya topeng trauma masa lalu, ia akan bisa memancarkan sepenuhnya hati nurani yang bersih yang dimiliki oleh setiap insani (Handayo, 2005).

EMDR (Eye Movement Disensitization Reprocessing)

Adalah pendekatan psikoterapi terpadu, bertahap, tervalidasi secara keilmuan berdasarkan teori untuk mengatasi psikopatologi yang dikarenakan oleh pengalaman traumatis dan peristiwa kehidupan yang mengganggu (EMDRIA, 2012).

Tahapan prosedur terapi EMDR:

  1. Latar belakang klien dan perencanaan treatmen (Client history)

Pada tahap ini terapis akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk merancang perencanaan treatmen. Informasi tentang gambaran klinis klien, termasuk didalamnya tentang sensasi emosi dan fisik yang dirasakan mengganggu. Terapis kemudian menetapkan target spesifik yang dibutuhkan. Target termasuk juga kejadian yang mengakibatkan trauma, situasi sekarang yang memicu simptom, dan jenis perilaku dan sikap positif yang diperlukan untuk ke depannya.

  1. Persiapan (Preparation)

Fase persiapan meliputi upaya membangun ikatan terapetik dengan klien, penjelasan proses EMDR dan efek-efeknya, membuat klien perhatian dan mengajarkan teknikteknik self-care sehingga klien dapat mengatasi emosi-emosi negatif yang muncul selama atau di antara sesi terapi, misalnya teknik relaksasi. Sesi ini penting untuk membangun kepercayaan dengan klien. Terapis juga menjelaskan EMDR secara lebih detail baik teori maupun prosedur yang akan dijalani.

  1. Assessment

Pada tahap ini terapis mengidentifikasi komponen target dengan menanyakan tiga hal:

  • Bayangan visual yang merepresentasikan kejadian target. Jadi mengklarifikasi bayangan visual dari trauma yang dialami.
  • Keyakinan negatif atau pikiran negatif yang mengekspresikan kondisi maladaptif klien . Pikiran negatif sebenarnya verbalisasi dari sesuatu yang mengganggu dan termasuk pernyatan-pernyatan seperti ; saya tidak berguna, saya jelek, saya bodoh. Klien kemudian menetapkan pikiran positif yang akan digunakan untuk mengganti pikiran negatif selama fase installation (fase kelima), misalnya “saya orang yang berguna, saya orang baik, saya dicintai. Klien kemudian diminta untuk menetapkan validitas pikiran positifnya dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 7 berdasarkan Validity of Cognition (VoC).
  • Klien juga diminta untuk mendeskripsikan tingkat gangguan emosi yang dirasakan ketika klien memfokuskan bayangan visualnya dengan menetapkan intensitas pada poin 0 sampai dengan 11 berdasarkan Subjective Units of Disturbance (SUD).
  1. Desensitization

Klien akan memfokuskan perhatiannya pada semua perasaan negatif dan emosi yang terganggu serta sensasi tubuh yang muncul ketika klien memfokuskan pada target bayangan saat mengikuti jari-jari terapis maju mundur pada matanya. Klien juga diminta untuk mencatat semua reaksi selama proses terapi; baik, buruk atau netral, termasuk juga keberadaan munculnya insight, asosiasi atau emosi yang dialami.

Selama fase desensitization terapis mengulang set rapid eye movement, dengan variasi yang tepat dan perubahan fokus. Jika perlu sampai level SUD klien berkurang menjadi 0 atau 1. Ini mengindikasikan bahwa disfungsi primer yang merupakan target kejadian telah hilang. Namun demikian, reprocessing belum sempurna, dan informasi akan diperlukan lebih lanjut pada fase berikut.

  1. Installation

Pada fase ini klien diminta untuk fokus pada pikiran positif yang telah diidentifikasi untuk menggantikan keyakinan negatif atau pikiran negatif yang tentang trauma. Seperti fase ke-4 klien berkonsentrasi pada bayangan mental secara bersamaan menelusuri jari terapis dengan matanya. Tujuannya adalah untuk memperkuat keyakinan positif atau self statement sampai klien menerima sepenuhnya.

Setiap satu set rapid eye movement, terapis akan meminta klien untuk menentukan pada level berapa keyakinan positif berdasarkan 7 skala VoC, yang memberikan ukuran konkrit bagi terapis kemajuan yang terjadi. Fase ini selesai ketika klien dapat menerima keyakinan positifnya pada level 7.

  1. Body scan

Setelah menggantikan keyakinan negatif yang berkaitan dengan trauma dengan keyakinan yang lebih positif, pada fase selanjutnya klien memfokuskan pada berbagai sensasi fisik. Terapis akan meminta klien untuk memikirkan tentang target awal bersamaan itu klien sepintas mendeteksi tubuh mulai dari kepala hingga kaki, untuk mendeteksi adanya ketegangan yang tersisa. Ketegangan yang masih ada atau sensasi fisik yang tidak nyaman kemudian dijadikan sasaran dengan stimulasi bilateral hingga tuntas.

Teknik ini menjadi terpercaya tidak hanya pada level intelektual. Fase ini dianggap sukses bila klien dapat berfikir atau berbicara tentang target awal tanpa adanya perasaan ketegangan di seluruh tubuh.

  1. Closure

Klien harus menyatakan keseimbangan emosi diakhir setiap sesi, apakah ada atau tidak reprocessing terselesaikan. Sebagai tambahan, penting bagi klien diberikan instruksi yang tepat diakhir setiap sesi. Selanjutnya terapis harus mengingatkan klien bahwa gangguan bayangan, pikiran atau emosi dapat saja muncul diantara sesi. Klien diminta untuk tetap membuat catatan harian dari pikiran-pikiran negatif, situasi, mimpi-mimpi dan ingatan yang mungkin terjadi. Instruksi ini membuat klien menjaga jarak secara kognitif dari gangguan emosi melalui tindakan menulis dan hal ini akan membuat klien menentukan target pada sesi berikutnya. Terapis juga akan mereview teknik visualisasi dan latihan relaksasi yang dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan emosi diantara sesi-sesi berikutnya.

  1. Reevaluation

Setiap sesi baru dimulai dengan melakukan reevaluasi terhadap kemajuan yang dialami klien. Pertama, klien akan diminta untuk fokus terhadap beberapa target yang telah dijalani. Terapis akan mereview respon klien, melihat apakah klien berhasil mempertahankan hasil yang positif. Terapis juga menanyakan bagaimanan perasaan klien tentang target sebelumnya dan mereview gangguan yang muncul diantara sesi. Berdasarkan reevaluasi ini terapis akan memutuskan apakah meneruskan pada target baru atau kembali pada target lama untuk dilakukan tambahan reprocessing dan integration (Sari, 2015).

Penutup

Trauma Psikis adalah respon emosional seseorang terhadap peristiwa mengerikan yang pernah dialaminya. Setelah mengalami kejadian tersebut para korbannya akan mengalami goncangan jiwa dan sikap menolak agar terhindar dari peristiwa buruk yang pernah dialaminya (Pranoto, 2015). Tanda gejala dari trauma psikis antara lain : sulit tidur dan mudah terbangun, mimpi buruk terhadap hal kejadian yang mengerikan, seperti mengalami kembali peristiwa buruk dan mengerikan, menghindari tempat, orang, situasi, dan hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa buruk dan mengerikan, mudah terkejut, mudah tersinggung dan marah, serta yang lainnya (Nasution, 2015).

Eye Movement Disensitization Reprocessing (EMDR) adalah salah satu terapi yang banyak digunakan dalam menangani kasus PTSD. Perancangan terapi EMDR dilakukan 4 kali sesi. Sebelum dan sesudah terapi pada subyek dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur PSS (PTSD Symptom Scale) dan CAPS (Clinician Administered PTSD Scale) (Susanty, 2014). Tahapan prosedur terapi EMDR : 1) Latar belakang klien dan perencanaan treatmen (Client history), 2) Persiapan (Preparation), 3) Assessment, 4) Desensitization, 5) Installation, 6) Body scan, 7) Closure, 8) Reevaluation (Sari, 2015).

Saran

Dapat dipertimbangkan untuk mengatasi trauma psikis dilakukan dengan terapi Eye Movement Disensitization Reprocessing. Selain itu dalam melakukan terapi Eye Movement Disensitization Reprocessing dilakukan dengan metode bertahap atau berulang agar masalah trauma psikis benar-benar hilang.

*) Penulis adalah Mahasiswa S-1 Keperawatan – Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Daftar Pustaka ada pada Penulis.

4,137 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini